Translate

Kamis, 25 September 2014

DIRECT METHOD



Latar Belakang
Direct Method (DM) atau Nature Method diperkenalkan oleh Francois Gouin dan Charles Berlitz. Metode ini muncul disebabkan beberapa faktor ketidakpuasan terhadap GTM. DM ini pertama kali diperkenalkan di Perancis namun kurang mendapat tanggapan. Metode ini mendapat support di Jerman, Skandinavia, dan akhirnya masyarakat Prancis pun menerima metode ini.
Metode ini memiliki satu aturan yang sangat mendasar; Tidak boleh ada penerjemahan (ke dalam bahasa ibu) dalam bentuk apa pun. Oleh karena itu, dalam direct method, makna yang ingin disampaikan langsung menggunakan bahasa target melalui penggunaan demonstrasi dan alat bantu visual, tanpa menggunakan bahasa asli siswa.

Pendekatan
Konsep mengenai pembelajaran bahasa melalui pendekatan langsung antara lain berkenaan dengan hal-hal baru yang diperkenalkan secara lisan melalui peragaan, barang-barang nyata, gambar-gambar, sedangkan kata-kata yang bersifat absrak diperkenalkan melalui asosiasi ide. Berbicara dan menyimak diajarkan sekaligus dengan menekankan pada ketaatan ucapan dan tata bahasa.

Desain
  • Tujuan: Tujuan utama metode ini ialah penguasaan bahasa target secara lisan agar siswa mampu menggunakannya seperti penutur asli.
  • Model Silabus: Silabus yang digunakan dalam metode ini didasarkan pada berbagai situasi (seperti: satu unit akan berisi dari ungkapan-ungkapan yang digunakan di bank dan unit yang lain berisi ungkapan-ungkapan ketika berbelanja) atau berbagai topik (seperti:geografi, uang, atau cuaca). Tata bahasa diajarkan secara induktif; yaitu para siswa diperkenalkan dengan contoh-contoh terlebih dahulu lalu mereka berusaha memahami kaidah-kaidah yang berada di balik contoh-contoh tersebut. Para siswa mempratikkan kosakata dengan menggunakan kata-kata baru tersebut dalam kalimat-kalimat lengkap. Dengan demikian pemilihan materi ajar lebih ditekankan pada pengajaran kosakata daripada tata bahasa.
  • Aktivitas: Meskipun perhatian terhadap keempat keterampilan berbahasa (membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan) terjadi sejak awal, tetapi komunikasi lisan dianggap sebagai dasar. Dengan demikian, latihan membaca dan menulis didasarkan pada latihan lisan yang telah dipratikkan terlebih dahulu oleh siswa. Pelafalan yang benar juga mendapatkan perhatian sejak awal pelajaran. Kemampuan berbahasa yang lebih diutamakan adalah kemampuan berbicara bukan kemampuan menulis. Oleh karena itu, para siswa belajar berbicara sehari-hari dengan wajar dalam bahasa sasaran. Mereka juga mempelajari budaya dan sejarah masyarakat penutur bahasa sasaran. Mereka juga mempelajari budaya dan sejarah masyarakat penutur bahasa sasaran, geografi negeri atau negara-negara di mana bahasa itu digunakan sebagai bahasa percakapan, dan informasi tentang kehidupan sehari-hari para pembicara bahasa sasaran. Guru-guru yang menggunakan metode ini berkeyakinan bahwa siswa perlu menghubungkan makna dan bahasa sasaran secara langsung. Untuk melakukan hal ini, ketika guru memperkenalkan suatu kata atau frasa baru, ia akan mendemonstrasikan maknanya melalui pemakaian realita, gambar-gambar, atau pantomim, ia tidak pernah menerjemahkannya ke dalam bahasa siswa. Bahasa ibu tidak boleh digunakan di dalam kelas. Para siswa berbicara sebagian besar dalam bahasa sasaran dan mereka berkomunikasi seolah-olah mereka dalam situasi dan topik yang riil.
  • Peranan Guru, Siswa, dan Materi: Peran guru pada metode ini adalah sebagai 'director' kelas, namun peran siswa lebih aktif jika dibandingkan pada GTM. Guru dan siswa lebih seperti partner dalam proses pembelajaran. Guru menggunakan realia berupa gambar atau mendemonstrasikan arti dari bahasa target tersebut, bisa juga dengan menggunakan pantomime.


Prosedur
Langkah-langkah penyajian dalam metode ini bisa bervariasi, namun secara umum adalah sbb:
  • Guru memulai penyajian materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk bendanya atau gambar benda itu, memperagakan sebuah gerakan atau mimik wajah. Pelajar menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.
  • Latihan berikutnya berupa tanya jawab dengan kata tanya what, where, dsb, sesuai dengan tingkat kesulitan pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan.
  • Setelah guru yakin bahwa siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna, siswa diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang benar kemudian siswa diminta membaca secara bergantian.
  • Kegiatan berikutnya adalah menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku, dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis.
  • Bacaaan umum yang sesuai dengan tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan, misalnya berupa cerita humor, cerita yang mengandung hikmah, dan bacaan yang mengandung ungkapan-ungkapan indah. Karena pendek dan menarik, biasanya siswa menghafanya diluar kepala.
  • Tata bahasa diberikan pada tingkat tertentu secara induktif.
  • Siswa didirong untuk berani berbicara dan tidak perlu takut salah.


Kelebihan
  • Peserta didik terampil dalam kemampuan menyimak (Listening Comprehension)
  • Bertambahnya kosa kata peserta didik
  • Para peserta didik memiliki lafal seperti atau mendekati penutur asli
  • Para peserta didik mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap khususnya mengenai topik yang sudah dilatih di kelas.
  • Kegiatan Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah dipahami oleh peserta didik. Sebab  dalam pembelajarannya, setiap kata yang diajarkan mempunyai hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Kelemahan
  • Metode ini sulit untuk diterapkan pada kelas yang memiliki banyak peserta didik.
  • Guru dituntut untuk mempunyai kelancaran berbicara seperti penutur asli.
  • Metode ini menghindari penggunaan bahasa ibu atau terjemahan. Hal ini justru bisa menghambat kemajuan pelajar, sebab banyak waktu dan tenaga terbuang dalam menerangkan kata abstrak (tak bisa diragakan atau gambarkan) atau konsep tertentu dalam bahasa asing. Padahal jika diterjemahkan akan memakan waktu sebentar saja.

ORAL APPROACH AND SITUATIONAL LANGUAGE TEACHING



Latar Belakang
SLT dikenal pada tahun 1920-1930, dipelopori oleh Harold Palmer dan A. S. Hornby, dua orang terkemuka di Inggris pada abad 20-an dalam pembelajaran bahasa. Metode SLT atau sering juga disebut Oral Approach merupakan pengembangan dari Direct Method.

Pendekatan
  • Teori Bahasa: Teori bahasa yang mendasari SLT adalah “British Structuralism”. Speech dianggap sebagai dasar bahasa, dan struktur dipandang sebagai jantungya kemampuan berbicara. Teori yang dianut menjelaskan bahwa struktur bahasa harus dihubungkan dengan situasi di mana struktur tersebut digunakan. Hal ini menjadi fitur atau ciri pembeda dari Situational Language Teaching.
  • Teori belajar: Teori belajar yang mendasari SLT adalah teori pembiasaan belajar (habit learning) kaum behavioris. Teori belajarnya lebih menekankan pada proses daripada kondisi belajar.


Desain

  • Tujuan: Tujuan dari SLT adalah mengajarkan empat keterampilan dasar berbahasa. Hal ini juga dianut oleh kebanyakan metode pengajaran bahasa. Yang membedakan adalah keterampilan berbahasa didekati melalui struktur bahasanya.
  • Model Silabus: Silabus yang digunakan dalam SLT adalah silabus struktural dan daftar kosa kata. Silabus struktural merupakan sejumlah deret struktur dan pola-pola kalimat dasar. Struktur diajarkan dalam kalimat, dan kosa kata dipilih sesuai dengan seberapa besar kosa kata tersebut mampu digunakan di dalam kalimat.
  • Aktivitas: Aktivitas yang dapat dilakukan berupa pengulangan, drill, dictation.
  • Peranan Guru, Siswa, dan Materi: Pada metode ini, guru harus menciptakan situasi yang sesuai dengan materi pelajaran bahasa target, dia bisa menjadi model, dan memiliki kemampuan untuk memberikan instruksi yang tepat, sedangkan siswanya akan mendengarkan dengan cermat dan mengulangi apa yang dikatakan gurunya. Materi yang digunakan dapat berupa textbook dan visual aids.


Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan dari metode ini adalah memberikan kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan pengetahuan mereka, namun bisa saja membosankan bagi beberapa siswa karena adanya pengulangan. 

AUDIOLINGUAL METHOD


Latar Belakang
Metode audiolingual merupakan sebuah metode yang sudah berkembang selama Perang Dunia II berlangsung. Keikutsertaan Amerika dalam perang dunia II telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengajaran bahasa di Amerika. Untuk membekali tentaranya dengan personil yang fasih berbahasa lain, maka dibuatlah program training khusus yang bernama Army Specialized Training Program (ASTP) pada tahun 1942. Pada tahun 1943 sebanyak 55 universitas di Amerika mengembangkan program ini dan selanjutnya berkembang dengan nama Audiolingual Method.
Dasar pemikiran ALM mengenai bahasa, pengajaran, dan pembelajaran bahasa adalah sebagai berikut:

  • Bahasa adalah lisan, bukan tulisan 
  • Bahasa adalah seperangkat kebiasaan
  • Ajarkan bahasa dan bukan tentang bahasa  
  • Bahasa adalah seperti yang diucapkan oleh penutur asli      
  • Bahasa satu dengan yang lainnya itu berbeda


Pendekatan
  • Teori Bahasa: Teori bahasa yang melandasi lahirnya metode audiolingual adalah linguistik structural. Kaum structural menekankan pada bahasa lisan, dengan keyakinan bahwa kita belajar berbicara terlebih dahulu sebelum belajar bahasa tulis.
  • Teori belajar: Metode audiolingual berdasar pada teori behavioristik yang dikembangkan Skinner. Kaum behavioris meyakini bahwa belajar bahasa pada hakikatnya adalah masalah pembiasaan. Dengan pola pikir bahwa dalam proses pembelajaran yang penting adalah stimulus, respon, dan penguatan. 

Desain
  • Tujuan: Brook membedakan ada tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai oleh metode ini. Tujuan jangka pendeknya adalah keakuratan pronunciation dan tujuan jangka panjangnya adalah agar siswa dapat berbahasa seperti penutur aslinya.
  • Model Silabus: Silabus yang diterapkan dalam ALM adalah silabus linguistik  yang berisi hal-hal yang menjadi kunci yang berkaitan dengan fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa yang diatur urut sesuai dengan urutan pembelajarannya. Keterampilan berbahasa diajarkan secara urut mulai dari listening, speaking, reading, dan writing.
  • Aktivitas: Bentuk kegiatan pengajaran dan pembelajaran audiolingual pada dasarnya adalah percakapan dan latihan-latihan (drill). Percakapan berfungsi sebagai alat untuk meletakkan struktur-struktur kunci pada konteksnya dan sekaligus memberikan ilustrasi situasi dimana struktur-struktur tersebut digunakan oleh penutur asli. Pengulangan dan penghafalan menjadi kegiatan yang dominan pada metode ini. Kegiatan-kegiatan pembelajaran berdasarkan audiolingual adalah; repetition, inflection, replacement, restatement, completion, transposition, expansion, contraction, transformation, integration, rejoinders, dan restoration.
  • Peranan Guru dan Siswa: Peran seorang guru seperti seorang pemimpin orchestra yang memerintah dan mengontrol kebiasaan bahasa para siswanya, para guru juga bertanggung jawab dalam memberikan contoh dan model yang baik bagi para siswanya. Sementara itu, para siswa memiliki peranan untuk menjadi imitator dari guru yang memberikan model dan mengikuti petunjuk dari guru.
  • Materi: Metode audiolingual menuntut guru untuk menguasai bahasa target dengan baik. Karena pembelajaran berorientasi pada guru. Buku siswa kadang tidak digunakan. Kaset dan perlengkapan audiolingual berperan dalam proses belajar. Laboratorium bahasa juga dapat digunakan saat praktek listening.

Prosedur
  • Siswa mendengarkan contoh dialog (dibacakan oleh guru atau dari tape, 2 – 3 kali). Lalu siswa mengulang setiap baris dari dialog secara bersama-sama dan individu.
  • Guru memperhatikan pengucapan, intonasi dan kelancaran siswa dalam melafalkan dialog dan langsung mengoreksinya jika terjadi kesalahan.
  • Dialog dihafal baris perbaris dan dipraktekkan
  • Siswa sudah boleh melihat buku teks mereka. Kegiatan seperti reading dan writing akan diberikan ketika siswa telah mahir pada kegiatan listening dan speaking.
  • Rangkaian aktivitas ini dapat dilakukan di laboratorium bahasa.

Kelebihan
  • Secara positif drill dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan oralnya.
  • Metode ini dapat digunakan dalam kelas yang besar.

Kelemahan
  • Peran dan keaktifan guru merupakan hal yang penting dalam metode ini, jadi guru banyak mendominasi kelas.
  • Guru akan mengeluh karena banyaknya waktu yang dibutuhkan, dan siswa cenderung bosan karena kegiatan pengulangan yang terus menerus.